Blog ini adalah himpunan puisi GOENAWAN MOHAMAD.
Penyair Indonesia, lahir 29 Juli 1941.
Tuesday, January 13, 2009
Berjaga padamukah Lampu-lampu Ini, Cintaku
Berjaga padamukah lampu-lampu ini, cintaku yang memandang tak teduh lagi padamu Gedung-gedung memutih memanjang membisu menghilang dari sajakku
Tapi kita masih bisa mencinta, jangan menangis Tapi kita masih bisa menunggu. Raja-raja akan lewat dan zaman-zaman akan lewat Sementara kita tegak menghancur 1000 kiamat
Apa lagikah yang mesti diucapkan dalam gaung waktu bersahutan? Di empat penjuru malaikat pun berlagu, lewat kabut dan terasa hari berbisik
Ada sekali peristiwa di relung-relung sunyi Hira terdengar seru: “Bacalah dengan nama Tuhanmu”
Maka terbacalah. Tapi terbaca juga sepi ini kembali, menggetar, pada senyum penghabisan dan terjatuh dalam sajak, sajak yang melambaikan tangan, terbuka dan bicara dengan senja di atas cakrawala: ada sesuatu yang terpandang bening dalam diriku, antara dinding, di mana terbubuh nama-Mu, yang menjanjikan damai itu.
Bila langit pun kosong, dan berserakan bintang mengisinya: tidakkah akan kami gelisahkan, Tuhan segala ini? Tidakkah semacam duka untuk memburu setiap kata, setiap dusta tentang kejauhan-Mu, tentang rahasia? Sebab Engkaulah arah singgah yang penuh penjuru seperti bumi, hati dan mungkin puisi yang berkata lewat sepi, lewat usia kepadaku
Maka siapkan waktu dengan suara-Mu tegap yang sediam lembut detik-detik darah tersekap sementara baringkan kota dalam tidur jauh malam
Berikan pula kami antara diam ini percakapan tiada sedih. Hanyalah malam yang makin tebal bila larit. Hanyalah lengang yang terentang di ruang kusut. Tapi kami yang diam bisa bicara, Tuhan, dalam selaksa warna-warni Dan tak ada perlunya sorga, dalam kemerdekaan seperti ini yang terhuni suara-suara bersendiri. Tak ada perlunya sorga yang jauh yang pasi dingin menyintuh: tanah yang dijanjikan dan telah ditinggalkan
Memusat matahari di bumi yang siang Terpukau air kemarau, rumputan kering di padang-padang Ini pun satu malam, dan kami mengerti jauh dari indera yang telanjang. Di tepi-tepi mencegah terik: Namun di manakah sedih, suara fana, antara bisik-bisik jantung mengungkapkan kata-kata?
Ada sekali peristiwa di relung-relung sunyi Hira terdengar seru: “Bacalah dengan nama Tuhanmu”
Maka berikanlah sunyi itu kembali Sebab kami mengerti: Engkau tak hendakkan kami terima sedih ala mini, alam yang sendiri, yang terhampar jauh, sahabat tak terduga Kabarkan: Apa lagikah yang terucapkan, dalam gaung waktu bersahutan yang begini damai, senyap, Tuhan, begini menyekap,
Amat bisu sejarah: kuketuk pintunya dan aku menunggu Satu jam lagi menyerah dan satu jam lagi menyerah bom jatuh di tengah malamku - pucat bumi semesta darah tetes di tengah sorga - Tapi masih juga selalu kubacakan padamu sajak perlahan-lahan, cerita-cerita tenang, pada jam senyap senggang, sementara pada lembut udara lampu-lampu merah termangu, dan di benteng-benteng kejauhan di kaki langit yang ngilu merangkak Asia yang hampir mati dari arah Nagasaki. Malam pun berkepul dari bumi yang tak hendak tidur: Apakah harap masih utuh? Atau rasa cemas yang ke seluruh? Kita tak tahu (Mungkin di sana ada bisik-bisik Asoka dan bising Zulkarnain dari jurang Makedonia) Mungkin hanya Tuhan melangkah lewat arus resah hidup tergerai yang mengepakkan sayapnya sekali lagi, sekali lagi
Gelitikkan, musim, panasmu ke usiaku bersama matari. Dari jauh bumi tertidur oleh nafasmu, dan oleh daun yang amat rimbun dan amat teduh dan seperti mimpi laut kian perlahan kian perlahan
Pada saat itu seorang tua pun jatuh di makamnya Pada saat itu seorang anak pun bangkit dari buaiannya Ia tampil kepadaku, biacara padaku: saudaraku hembuskan sajak ke paru-paruku
Lalu kuhembuskan sajak ke rabunya Tapi ia tumbuh juga jadi tua Meskipun di matanya ada puisi yang seakan-akan menjanjikan hidup abadi
(Maka aneh. Ketika ia mati musim belum lagi mati ketika ia ditanamkan, bunga tumbuh di pusat makam Dan ketika ia dilupakan matahari berkata pelan: sayang, memang sayang)
Jendela-jendela pun sunyi Menangkap kelam kali Yang kering, yang terasing Jauh dalam kerak musim
Dan bersitahanlah kota: ruang-ruang tua Bertalu-talu beribu gema Langkahan hidup yang gigih Di bumi letih
II
Sisa sedihkah riuh-rendah Dari sesuatu yang hilang dilupa Antara gairah, antara gelisah Bila tahun-tahun pun tiba?
Sisa sedihkan ini senyap Dalam getar separuh senja Antara deru mobil, huruf berlampu kerjap Sungai yang tak berkata-kata?
III
Pada puncak-puncak licin ini kupahatkan letihku di deru pagi Karena telah terhisap keringat oleh malam Mengucur ke daratan amat tajam
Pada detik-detik panjang ini Kubangunkan rumah, kubangunkan bumi Antara air mata, sajak-sajak yang tertinggal Antara martil berdegar-degar
Tapi tidakkah pada akhirnya akan ditinggalkan Seorang jauh di senja masa depan Yang makin menganga, semakin pancang ditegakkan Ketika lampu-lampu berpendaran, embun jatuh berkepanjangan
IV
Sidang malam hari ini Menggegar ruang beribu kursi Tentang seratus tahun-tahunmu, saudaraku Riwayat yang datang dalam cetak-biru
Pidato malam hari ini Terkelupas dari lembar-lembar lesi Sebuah legenda - sebuah legenda, saudaraku Dalam kuap panjang yang satu
Berita apakah akhirnya Yang pecah di puncak kota Engkau tahu Dan sajak pun tahu
Derita apakah jadinya Yang terpupus serasa dusta Aku tahu Den engkau pun tahu
Berpijarlah yang hijau: daun serta rumputan taman Berderailah. Dan lampu-lampu pun padam berturutan Bersama satu kereta - mentari membola - ayam pagi Dan semua yang kepada kita aka kembali
Maka bangkitlah: kehangatan pasar pun lepas lelap Dan tersenyum. Kini rumah-rumah telah rekahkan pintu-halaman Untuk menghadang, meski tak mengerti: semacam aspal jalan Semacam kotak-surat - atau rel-rel suram kemerlap
Setajam layung senja: Lorong-lorong ini pun juga Bergetar antara pucuk, antara gerak samar cemara Dan segala pasti menunggu, jalanan malam Minggu Dan segala pasti menunggu: jaga akhir hari yang lesu
Sebab yang melangkah ke malam bukan hanya pengembara Sebab yang terbungkuk di ranjang bukan hidup sia-sia Kepada kaca pun kita sanggup berbisik Sepanjang senja yang lenyap: detik demi detik
Di sini cemara pun gugur daun. Dan kembali ombak-ombak hancur terbantun. Di sini kemarau pun menghembus bumi menghembus pasir, dingin dan malam hari ketika kedamaian pun datang memanggil ketika angin terputus-putus di hatimu mengigil dan sebuah kata merekah diucapkan ke ruang yang jauh:- Datanglah!
Ada sepasang bukit, meruncing merah dari tanah padang-padang yang tengadah tanah padang-padang terukur di mana tangan-hatimu terulur. Pula ada menggasing kincir yang sunyi ketika senja mengerdip, dan di ujung benua mencecah pelangi: Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini ketika bangkit bumi, sejak bisu abadi, dalam kristal kata dalam pesona?