Saturday, February 08, 2014

Sjahrir, Di Sebuah Sel


     --untukRudolf Mrazek


Dari jendela selnya, 
(kita bayangkan ini Jakarta,
Februari 1965, dan ruang itu lembab,
dan jendela itu rabun),
ia merasa siluet pohon
mengubah diri jadi Des,
anak yang berjalan dari selat
memungut cangkang nyiur,
dan melemparkannya
ke ujung pulau.

"Aku selalu berkhayal tentang selat,
atau taman kembang, atau anak-anak."

Itu yang kemudian ditulisnya
di catatan harian.

Maka ditutupkannya daun jendela
dan ia kembali ke meja,
ke peta dengan warna laut
yang tak jelas lagi.

Ia cari kapal Portugis.

Tapi Banda begitu pekat, dan laut
menyembunyikan ingatannya.

(Seorang pemetik pala
pernah mengatakan itu
di sebuah bukit
kepada Hatta).


Kini ia mengerti: juga peta
menyembunyikan ingatannya,
seperti malam Rusia
menyembunyikan sebuah kota.
Tiap pendarat tak akan
mengenali  letak dangau,
jejak ketam pasir, 
batang rambai yang terakhir,
di mana sisa hujan
agak disamarkan.

"Sjahrir. Bukankah lebih  baik lupa?"

Seekor ular daun pernah menyusup
ke sandalnya dan ia ingat ia berkata,
"Mungkin. Mungkin aku tak akan mati."

Esoknya ia berlayar.
Di jukung itu anak-anak mengibarkan
bendera negeri yang belum mereka kenal.

"Lupa adalah...."

"Jangan kau kutip Nietzsche lagi!".

"Tidak, Iwa. Aku hanya ingin tahu
sejauh mana kita merdeka."

Di beranda rumah Tjipto,
di tahun 1936 itu,
percakapan sore,
di antara pohon-pohon Naira,
selalu menenteramkan.
"Jangan beri kami altar
dan tuhan imperial,"
seseorang menirukan doa.

"Tapi kita dipenjarakan, bukan?"

Ya, tapi ini penjara yang pertama,
yang memisahkannya dari ingin
dan kematian.

"Ah, lebih baik kita diam,"
kata tuan rumah.
"Abad ke-20 adalah abad
yang memalukan."

Di sana, di beranda rumah Tjipto,
menjelang malam, di tahun 1936,
mereka selalu tertawa
mengulang kalimat itu.

Di sini, (kita bayangkan di Jakarta,
Rumah Tahanan Militer, 1965),
ia tak pernah merasa begitu sendiri.

Hanya ada suara burung tiung
(atau seperti suara burung tiung)
ketika siang diam.

Tapi ia takut duduk.

Ia tak ingin  menghadap ke laut,
(andaikan ada laut),
seperti patung Jan Pieterzoon Coen,
seperti pengintai di menara benteng
yang menunggu kapal-kapal
di dekat langit
sebelum perang.

Ia tak ingin duduk.

"Siapa yang menatap jurang dalam,
jurang dalam akan menatapnya."

Mungkinkah ia sendiri
yang mengucapkannya di sel itu?


2014





























Sunday, October 06, 2013

Aku Akan Tugur

Aku akan tugur sepanjang malam
di puri tua itu, Dulcinea.
Menjaga mimpimu,
meski kau tak pernah ada.


Jalan putih, bulan putih,
fajar jauh, aku sendiri
seperti tonggak
sebelum gempa.

Kutulis sajak yang lelah,
mungkin
di pelana dingin
seperti somnabulis terakhir

yang menempuh pasir, sepanjang malam
dari tingkap itu, Dulcinea,
dengan kasut sedih
kata-kata


2007

Ke Arah Balkon

Ke arah balkon itu Don Quixote de La Mancha bertanya,
"Ke manakah jalan ke kastil yang dulu ada dan kini tidak?"

Seorang perempuan menengok ke bawah sebentar.
Rambutnya yang lurus, hitam, membuat bayang pada
langsat pipinya. Matanya kecil, mengingatkannya pada punai
yang terbidik.

"Engkau ketakutan!"

Dan laki-laki yang merasa dirinya gagah itu pun turun dari
kudanya.

Ia berjalan mendekat. Ia melihat, sekilas, tangan Peri
Kesepian
mengangkat tubuh rapuh itu ke dalam sebuah gumpalan
mega,
di mana setiap perempuan akan ditinggalkan.

"Jangan!"

Don Quixote menghunus pedangnya yang retak. Tapi semua
bergerak pelan.


2007

Ia Menangis

Ia menangis untuk lelaki di atas kuda kurus
yang akhirnya sampai pada teluk
di mana fantasi adalah hijau hujan
yang hilang ujung
di laut asing.

Ia menangis,
dan lelaki itu
mendengarnya.

"Aku Don Quixote de La Mancha
majenun yang mencarimu."

Tubuhnya agak tinggi, tapi rapuh dan tua sebenarnya.
Ia berdiri kaku.
Cinta tampak telah menyihirnya
jadi ksatria dengan luka
di lambung.
Tapi ia menanti perempuan itu melambai
dalam interval grimis
sebelum jalan ditutup
dan mereka mengirim polisi, tanda waktu,
kematian.


2007

Monday, July 29, 2013

GM 72 Tahun

Selamat Ulang Tahun Goenawan Mohamad
29 Juli 2013




Monday, July 22, 2013

Tuhan, kata...

"Tuhan, kata Bunda Teresa, bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata dan bulan bergerak tanpa berisik."

— Goenawan Mohamad

Seseorang pernah...

"Seseorang pernah mengatakan, guna puisi adalah dengan hadir tanpa guna. Ia tak bisa dijual. Ia menegaskan tak semua bisa dijual."

— Goenawan Mohamad

Kesusastraan...

"Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin."

— Goenawan Mohamad

Kenapa...

"Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi—seperti kenyatan tentang cinta dan mati?"

— Goenawan Mohamad

Saturday, June 01, 2013

Daun

Dengan konyol aku ceritakan
bagian penutup Setangkai Daun Surga:
Syahdan, di malam ke-7 yang dingin
(itu kuingat dari buku Cor Bruijn),
setelah derak gurun,
setelah badai bertahun-tahun
tangkai terakhir itu dianugerahkan.
Dan daun itu jadi hijau,
dan daun jadi
engkau

Tapi kau tak bertanya, bagaimana
akhir dongeng itu sebenarnya.

Kau hanya dengan sabar
mendengarkan
suaraku yang setengah hilang
di terik sebuah siang
yang setengah bahagia


2012

Datang


25 September, akhirnya ia datang, hampir terlambat:
ia dan warna putih,
ia dan jam yang teduh,
ia dan anti-kematian.


Aku pun pelan menciumnya, dan di landskap
hanya ini yang kulihat:
bulan yang mencoba lepas
dari kota dan gas.




2009-2012

Monday, January 14, 2013

Buat H.J. dan P.G.

Seperti sebuah makam yang tenang:
dua leli paskah
disematkan
pada mawar hitam.

Seperti kelebat jam yang datang:
kupu-kupu putih
melenyapkan putih
ke loteng lengang.

Seperti sebuah bel yang riang,
kabar itu datang ke ruang
telah kuketok kawat,
“Bapak, saya agak tiba terlambat.”

Maka aku berbisik hati-hati
kepada malaikat yang tiba pagi,
“Hari ini aku
belum ingin mati.”

“Sebab anakku
akan terbang kemari
dari rumahnya yang jauh
di sebuah negeri yang teduh.”

Lalu kutunjukkan potretmu: 1985
ketika kau senyum
pada stang sepeda
di depan rumpun asalea.

Dan malaikat itu tertawa.

Adakah yang lebih sakral, anakku,
pada potret-potret lama
kecuali tempat yang kita kenal
saat-saat yang tak pernah baka?

1990

Sunday, November 25, 2012

Tujuh Puisi



Tentang Usinara

Usinara, yang menyerahkan jangat dan darahnya untuk menyelamatkan seekor punai yang terancam kematian, tahu dewa-dewa tak pernah siap. Mereka makin tua.  Langit menggantungkan dacin pada tiang lapuk Neraka sejak cinta dibunuh. Timbangan terlambat. Telah tujuh zaman asap & api penyiksaan mengaburkan mata siapa saja.

Di manakah batas belas, Baginda?  "Mungkin tak ada", jawab Usinara.  Ia hanya menahan  perih di rusuknya ketika tujuh burung nasar sibuk di kamar itu, (tujuh, bukan satu ), merenggutkan dagingnya,  selapis demi selapis.

Sering aku bayangkan raja yang baik hati itu tergeletak di lantai, memandang ke luar pintu, melihat debu sore dan daun-daun yang pelan-pelan berubah ungu.  Ia ingin punai itu segera lepas. "Ayo, terbang. Aku telah menebus nyawamu", ia ingin berkata.  Tapi suaranya tak terdengar.

Sementara itu, di sudut, si punai menangis:  "Tak ada dewa yang datang dan mengubah adegan ini jadi dongeng!". Usinara hanya menutup matanya.  Ia tahu kahyangan adalah cerita yang belum jadi.


2012




Tentang Maut


Di ujung bait itu mulai tampak sebuah titik
yang kemudian runtuh, 5 menit setelah itu.

Di ujung ruang itu mulai tampak sederet jari
yang ingin memungutnya kembali.

Tapi mungkin
itu tak akan pernah terjadi.

Ini jam yang amat biasa: Maut memarkir keretanya di ujung gang dan berjalan tak menentu.

Langkahnya tak seperti yang kau bayangkan: tak ada gempa, tak ada hujan asam, tak ada parit
yang meluap.

Hanya sebuah sajak, seperti kabel yang putus.

Atau hampir putus.

2012





Di Antara Kanal

Jarimu menandai sebuah percakapan
yang tak hendak kita rekam
di hitam sotong dan gelas sauvignon blanc
yang akan ditinggalkan.

Di kiri kita kanal  menyusup
dari laut.  Di jalan para kelasi
malam seakan-akan biru.
"Meskipun esok lazuardi", katamu.

Aku dengar. Kita kenal
kegaduhan di aspal ini.
Kita tahu banyak hal.
Kita tahu apa yang sebentar.

Seseorang pernah mengatakan
kita telah disandingkan
sejak penghuni pertama ghetto Yahudi
membangun kedai.

Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,
tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.
“Kota ini," katamu. "adalah jam
yang digantikan matahari.”

2012







Tentang Chopin

Kembali ke nokturno,  katamu.  Aku inginkan Chopin.
Seperempat jam  kemudian, tuts hitam pada piano itu menganga. 
Malam telah melukai mereka. 
Mungkin itu sebabnya kau selalu merasa bersalah, seakan-akan sedih adalah bagian dari ketidak-tahuan.  Atau kecengengan. Tapi setiap malam, ada jalan batu dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi, dan kau, yang mencoba mengenangnya dari cinta yang pendek, yang terburu,  akan gagal. Di mana kota itu?  Siapa yang meletakkan tubuh itu di sisi tubuhmu? 
Semua yang kembali
hanya menemuimu
pada mimpi yang tersisa
di ruas kamar...

Coba dengar, katamu lagi,
apa yang datang dalam No. 20 ini? 


Di piano itu seseorang memandang ke luar
dan mencoba menjawab: 
Mungkin hujan. Hanya hujan.

Tapi tak ada hujan dalam C-Sharp Minor, katamu.

2012


 Aktor

              --  untuk Moh. Sunjaya

Aktor terakhir menutup pintu.
"Caesar, aku pulang."
Dan ruang-rias kosong. Cermin jadi dingin
seperti wajah tua yang ditinggalkan.             

Siapapun pulang. Meski pada jas
dengan punggung  yang berlobang
ia masih rasakan ujung pisau itu
menikam dan akordeon bernyanyi

pada saat kematian. Ia masih ingat
kalimat di adegan ke-4,
tentu saja. Tapi ia tak ingin
mengulanginya.


"Teater,"  sutradara selalu bergumam,
"hanya kehidupan dua malam."
"Tapi tetap kehidupan", ia ingin menjawab.
Ia selalu merasa bisa menjawab.


Ia menyukai suaranya sendiri
dan beberapa kata-kata.
Tapi pada tiap reruntukan panggung
ia lupa kata-kata.

Pada tiap reruntukan panggung
ia hanya ingin tiga detik -- tiga detik yang yakin:
dalam lorong Kapai-Kapai,  Abu tak berhenti
hanya karena cahaya tak ada lagi.

Ia tak menyukai melankoli.


2012








Rite of Spring

Tari itu melintas pada cermin:
bagian terakhir Ritus Musim.
Gerak gaun --  paras putih --
tapak kaki yang melepas lantai...

23 tahun kemudian  di kaca ia temukan
wajahnya. Sendiri. Terpisah dari ruang.
Lekang, seperti warna waktu
pada kertas koreografi.

Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.
"Aku tak seperti dulu," katanya,
"tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.
Aku -- hantu salju."

Suaranya pelan.  Seperti derak tulang
ketika di ruang latihan itu
tak ada lagi adegan.
Hanya nafas. Mungkin ia masih di situ.

2012




Yang Tak Menarik Dari Mati

Yang tak menarik dari mati
adalah kebisuan sungai
ketika aku
menemuinya.

Yang menghibur dari mati
adalah sejuk batu-batu,
patahan-patahan kayu
pada arus itu.


 2012

Friday, September 07, 2012

potret


Wednesday, August 01, 2012