Sunday, July 29, 2012
Saturday, July 28, 2012
Thursday, July 19, 2012
Friday, July 13, 2012
9 Edisi Catatan Pinggir (Unofficial Book Cover)
Pada Kamis 21 Juni 2012 di Komunitas Salihara - Jakarta, diluncurkan sembilan jilid sekaligus buku Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad.
Catatan Pinggir adalah nama rubrik di majalah Tempo yang berisi esai pendek yang telah ditulis Goenawan sejak pertengahan tahun 70-an hingga sekarang. Perjalanan esai yang lebih-kurang hampir 40 tahun itulah dijadikan sembilan jilid buku. Kumpulan esai-esai ini sebenarnya sudah pernah diterbitkan secara terpisah, yang dimulai sejak awal 80-an (Catatan Pinggir 1) hingga sekitar 2010 (Catatan Pinggir7), tapi seiring waktu, buku-buku itu sulit untuk didapatkan lagi. Karena itu untuk edisi 8 dan 9, Penerbit PT Tempo Inti Media menerbitkan ulang Catatan Pinggir 1 - 9 sekaligus.
Sembilan buku Catatan Pinggir itu bisa didapatkan di beberapa toko buku.
Catatan: Gambar di atas adalah cover tidak resmi Catatan Pinggir. Saya hanya mencoba mereka-reka rancangan lain dari buku yang sudah terbit itu.
Friday, July 06, 2012
Di Depan Sancho Panza
Di depan Sancho Panza yang lelah,
seorang perempuan bercerita tentang sajak
yang disisipkan ke dalam hujan
yang tak tidur.
Tentu saja Sancho tak mengerti
bagaimana sajak disisipkan
ke dalam hujan, tapi ia mengerti
cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan
perempuan itu dan berkata, ”Jangan cemas.”
Memang sebenarnya perempuan itu cemas:
Seseorang mencintainya dan ia tak tahu
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang
dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan
hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,
seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan
antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.
Atau angan-angan yang memabukkan.
”Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,
tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan
dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar
adalah sesuatu yang panjang dan sabar
seperti gerimis.
2009
seorang perempuan bercerita tentang sajak
yang disisipkan ke dalam hujan
yang tak tidur.
Tentu saja Sancho tak mengerti
bagaimana sajak disisipkan
ke dalam hujan, tapi ia mengerti
cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan
perempuan itu dan berkata, ”Jangan cemas.”
Memang sebenarnya perempuan itu cemas:
Seseorang mencintainya dan ia tak tahu
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang
dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan
hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,
seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan
antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.
Atau angan-angan yang memabukkan.
”Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,
tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan
dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar
adalah sesuatu yang panjang dan sabar
seperti gerimis.
2009
Wednesday, July 04, 2012
Friday, June 15, 2012
Dalam Kemah
Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan- potongan pendek interupsi–lima menit, tujuh menit, empat…. Dan aku akan menatapmu dalam tidur.
Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil. Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.
Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.
Aku dekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.
2010
Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil. Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.
Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.
Aku dekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.
2010
Teleskop
Ia memandangimu dari jauh: sebuah teleskop tua, yang tak akan kelihatan,
seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya takut menyentuhmu.
Itu sebabnya, nak, pada sebuah sore, ia bertekad pergi ke pohon tumbang itu, tempat kau pada suatu hari duduk. Tak ada jejak di sana. Mungkin tubuhmu selamanya tak menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang bergetar berulang kali.
Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu
di saku jaketnya. Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di tanganmu, yang selamanya mengejutkan.
2009
seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya takut menyentuhmu.
Itu sebabnya, nak, pada sebuah sore, ia bertekad pergi ke pohon tumbang itu, tempat kau pada suatu hari duduk. Tak ada jejak di sana. Mungkin tubuhmu selamanya tak menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang bergetar berulang kali.
Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu
di saku jaketnya. Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di tanganmu, yang selamanya mengejutkan.
2009
Sekhak
Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.
Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.
Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”
Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.
”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.”
Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”
Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.
Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”.
Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.
2010
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.
Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.
Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”
Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.
”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.”
Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”
Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.
Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”.
Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.
2010
Wednesday, May 02, 2012
’In the Wee Small Hours’
Izinkan saya menulis tentang dinihari. Tentang jam-jam para insomniak, ketika malam sudah tak bisa disebut malam tapi pagi belum datang. Tentang orang-orang yang tak tidur, seperti kau dan aku, tak bisa tidur, mereka yang terpekur atau bengong atau bekerja apa saja, berdoa apa saja, mereka yang mencoba melupakan kesendirian, atau justru memasuki kesendirian.
Izinkan saya menulis tentang gelap. Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir. Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi. Justru (sebuah e-mail datang dan kamu mengingatkan saya, mengutip Paulo Coelho), ”saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.” Agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya.
Kesementaraan, juga kelebihan. Barangkali kedua-duanya yang membuat dinihari mempertautkan manusia dengan yang kekal. Di biara yang jauh dari keramaian, para rahib bangun pukul 03.30 pagi. Masing-masing melakukan doa pribadi di bilik yang sempit. Pada pukul 04.00, misa bersama mulai.
Dan selama Ramadan, makan sahur dilakukan di saat itu pula. Orang bisa mengatakan, fisik kita perlu dijaga dengan beberapa suap nasi sebelum puasa 12 jam. Tapi jangan-jangan semua itu bukanlah buat kesehatan—makan di jam seperti itu justru tidak membantu metabolisme tubuh—melainkan buat merasakan hubungan antara yang indrawi, yang badani, dan transisi saat. Ketika kita tahu hidup begitu sejenak, kita pun akan bertanya adakah segalanya juga fana—dan tidakkah pengertian tentang ”fana” hanya bisa dimengerti jika ada yang ”bukan-fana”, jika disandingkan dengan yang abadi? Meskipun yang abadi tak pernah kita alami?
Dalam gelap dinihari, jika yang abadi bisa terasa hadir, mungkin karena ada hubungan antara keabadian dan kuasa, dan ada hubungan kuasa dengan misteri. Ia tak pernah bisa ditebak. Ia semacam peringatan akan apa yang kurang pada kita—yang menyebabkan kita selamanya terbelah, antara kini yang rapuh dan kelak yang tak jelas, antara kini yang hadir dan kelak yang kita tak pernah tahu.
Justru karena dinihari juga akan berhenti. Ia juga bagian dari keterbatasan dan kesementaraan. Gelap tak bisa mutlak. ”Aku tak takut gelap,” kau bilang. ”Dalam gelap aku bisa menemukan kedamaian.” Tapi mungkin juga karena kita temui gelap tak sendirian: ia sebuah beda, ia sebuah intermezzo di dunia yang diberondong cahaya. Ada cahaya surya yang tua, ada cahaya yang dibikin Thomas Alva Edison, ada cahaya bintang yang sporadis, ada kilau lampu-lampu iklan yang kian agresif. Maka gelap adalah selingan dari terang yang gaduh. Kita tahu terang telah jadi bagian dari proyek manusia menguasai bumi—yang tak membuat kedamaian hal yang lumrah.
Tapi tak selamanya gelap sebuah intermezzo. Ia bisa jadi awal putus harapan. Pada 1815, lebih dari separuh abad sebelum Krakatau, sebuah gunung di Nusantara meletus. Sampai setahun berikutnya, debu yang muncrat dari kepundan Tambora itu menutupi langit. Matahari terkurung cadar tebal. Bulan padam. Di Eropa, tahun berikutnya semacam perubahan cuaca terjadi. Tahun itu kemudian diingat sebagai ”tahun tanpa musim panas”. Pada tahun itu pula penyair besar Inggris Lord Byron menulis sebuah sajak yang memukau, Darkness.
…dan bintang-bintang
menggelandang di ruang kekal
tanpa sinar, tanpa jalur,
dan Bumi yang dingin
bergoyang, buta…
Terkurung gelap debu Tambora itu, pagi datang dan pergi, tak membawa siang. ”Morn came and went—and came, and brought no day.” Dan ombak mati, pasang berdiam di kuburnya, sementara Bulan, ”tuan putri mereka, telah padam sebelumnya.” Angin pun lingsut di udara yang tak bergerak, awan musnah. Tapi, tulis Byron, ”Gelap tak perlu bantuan dari mereka. Gelap adalah Alam Semesta itu sendiri. She was the Universe.”
Sedikit berlebihan, tentu saja, seperti setiap sajak. Sebab selalu ada jarak antara alam semesta dengan gelap dan terang. Itulah sebabnya dinihari begitu penting: perbatasan; transisi; pertemuan dua hal, momen perbedaan, momen ketidakstabilan, tapi juga keterbukaan.
Mungkin itulah kita bisa saling merindukan—kita yang lain, kita yang beda, kita yang mungkin belum pernah bertemu. Di jam-jam awal dari hari, di dinihari, ketika kita dengarkan dengan sedikit tergetar oleh kangen yang tak terelakkan Sting menyanyi, ”In the wee small hours of the morning.” Dan kita dengar trompet Chris Botti meningkah, dan terasa, semua yang akan berakhir sejenak seperti sesuatu yang abadi.
Oktober 2008
Goenawan Mohamad
Izinkan saya menulis tentang gelap. Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir. Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi. Justru (sebuah e-mail datang dan kamu mengingatkan saya, mengutip Paulo Coelho), ”saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.” Agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya.
Kesementaraan, juga kelebihan. Barangkali kedua-duanya yang membuat dinihari mempertautkan manusia dengan yang kekal. Di biara yang jauh dari keramaian, para rahib bangun pukul 03.30 pagi. Masing-masing melakukan doa pribadi di bilik yang sempit. Pada pukul 04.00, misa bersama mulai.
Dan selama Ramadan, makan sahur dilakukan di saat itu pula. Orang bisa mengatakan, fisik kita perlu dijaga dengan beberapa suap nasi sebelum puasa 12 jam. Tapi jangan-jangan semua itu bukanlah buat kesehatan—makan di jam seperti itu justru tidak membantu metabolisme tubuh—melainkan buat merasakan hubungan antara yang indrawi, yang badani, dan transisi saat. Ketika kita tahu hidup begitu sejenak, kita pun akan bertanya adakah segalanya juga fana—dan tidakkah pengertian tentang ”fana” hanya bisa dimengerti jika ada yang ”bukan-fana”, jika disandingkan dengan yang abadi? Meskipun yang abadi tak pernah kita alami?
Dalam gelap dinihari, jika yang abadi bisa terasa hadir, mungkin karena ada hubungan antara keabadian dan kuasa, dan ada hubungan kuasa dengan misteri. Ia tak pernah bisa ditebak. Ia semacam peringatan akan apa yang kurang pada kita—yang menyebabkan kita selamanya terbelah, antara kini yang rapuh dan kelak yang tak jelas, antara kini yang hadir dan kelak yang kita tak pernah tahu.
Justru karena dinihari juga akan berhenti. Ia juga bagian dari keterbatasan dan kesementaraan. Gelap tak bisa mutlak. ”Aku tak takut gelap,” kau bilang. ”Dalam gelap aku bisa menemukan kedamaian.” Tapi mungkin juga karena kita temui gelap tak sendirian: ia sebuah beda, ia sebuah intermezzo di dunia yang diberondong cahaya. Ada cahaya surya yang tua, ada cahaya yang dibikin Thomas Alva Edison, ada cahaya bintang yang sporadis, ada kilau lampu-lampu iklan yang kian agresif. Maka gelap adalah selingan dari terang yang gaduh. Kita tahu terang telah jadi bagian dari proyek manusia menguasai bumi—yang tak membuat kedamaian hal yang lumrah.
Tapi tak selamanya gelap sebuah intermezzo. Ia bisa jadi awal putus harapan. Pada 1815, lebih dari separuh abad sebelum Krakatau, sebuah gunung di Nusantara meletus. Sampai setahun berikutnya, debu yang muncrat dari kepundan Tambora itu menutupi langit. Matahari terkurung cadar tebal. Bulan padam. Di Eropa, tahun berikutnya semacam perubahan cuaca terjadi. Tahun itu kemudian diingat sebagai ”tahun tanpa musim panas”. Pada tahun itu pula penyair besar Inggris Lord Byron menulis sebuah sajak yang memukau, Darkness.
…dan bintang-bintang
menggelandang di ruang kekal
tanpa sinar, tanpa jalur,
dan Bumi yang dingin
bergoyang, buta…
Terkurung gelap debu Tambora itu, pagi datang dan pergi, tak membawa siang. ”Morn came and went—and came, and brought no day.” Dan ombak mati, pasang berdiam di kuburnya, sementara Bulan, ”tuan putri mereka, telah padam sebelumnya.” Angin pun lingsut di udara yang tak bergerak, awan musnah. Tapi, tulis Byron, ”Gelap tak perlu bantuan dari mereka. Gelap adalah Alam Semesta itu sendiri. She was the Universe.”
Sedikit berlebihan, tentu saja, seperti setiap sajak. Sebab selalu ada jarak antara alam semesta dengan gelap dan terang. Itulah sebabnya dinihari begitu penting: perbatasan; transisi; pertemuan dua hal, momen perbedaan, momen ketidakstabilan, tapi juga keterbukaan.
Mungkin itulah kita bisa saling merindukan—kita yang lain, kita yang beda, kita yang mungkin belum pernah bertemu. Di jam-jam awal dari hari, di dinihari, ketika kita dengarkan dengan sedikit tergetar oleh kangen yang tak terelakkan Sting menyanyi, ”In the wee small hours of the morning.” Dan kita dengar trompet Chris Botti meningkah, dan terasa, semua yang akan berakhir sejenak seperti sesuatu yang abadi.
Oktober 2008
Goenawan Mohamad
Sebuah Sajak Rimbaud, Sebuah Lagu Ferre
Léo Ferré menafsir-nyanyikan salah
satu sajak Rimbaud yang terkenal, 'Les Poets de Sept Ans' (Para Penyair
Berumur Tujuh Tahun) -- satu cara mempertemukan musik dan puisi ('musikalisasi
puisi') yang membariskan kata-kata ke depan, sementara yang musikal mengiringi,
atau mengantar, yang verbal, ibarat penabuh genderang dan nafiri.
Ferré (1916-1993) sendiri seorang
penyair. Ia bahkan pernah menulis novel, meskipun ia sejak awal terpaut pada
musik, mencintai karya Ravel dan dan akhirnya dikenal sebagai penggubah
lagu dan penyanyi. Salah satu lagi gubahannya yang terkenal, 'Avec Le
Temps' (Bersama Waktu), menunjukkan ia melanjutkan corak melodi chanson Prancis
yang kelihatan pada lagu-lagu sejak Edith Piaf, J. Berl sampai dengan Francoise
Hardy: liris, dengan emosi yang tak ditahan, antara melankoli dan
gairah. Saya pernah melihat dalam YouTube Jane Birkin menyanyikan itu:
matanya basah.
Ferré, seorang Anarkis, juga
menggubah musik untuk puisi Baudelaire, penyair yang 'dikutuk' itu, dan puisi
Aragon, penyair surrealis yang kemudian jadi tokoh sastra Partai Komunis.
Sajak Rimbaud ini (ditulis 26
Mei 1871) pertautan yang memukau antara baris-baris naratif dan imajistis:
anak-anak adalah penyair, dan penyair adalah anak-anak, yang diam-diam
memberontak kekangan Sang Ibu. Sang pengawas tak tahu bahwa si anak
mencemooh, bahkan menampik, apa yang dikehendakinya. Bocah itu
membangkang dengan dusta: ia pura-pura patuh, tapi tiap kali Sang Ibu
meninggalkannya, ia akan menjulurkan lidah mengejek. Di kamarnya, ia pun
menulis novel-novel tentang 'Hutan, mentari, sungai, savana!' -- 'kehidupan
padang pasir, di mana Kemerdekaan diasingkan.'
Yang paling ingin dihindarinya
adalah 'hari-hari Minggu bulan Desember', ketika ia harus duduk di depan meja
besar dan membaca Alkitab. Di malam hari mimpi akan menekannya. 'Ia tak
mencintai Tuhan,', tulis Rimbaud tentang anak itu, 'melainkan orang-orang
berbaju kerja warna gelap/ yang berjalan kembali ke tepi kota/ ketika senja
menguning-jingga.'
Suara Ferré berat tapi terang. Di
akhir nyanyiannya (atau pembacaannya?), ia ledakkan kata-kata Rimbaud: si anak,
sendirian terbaring di secarik kain kanvas kasar, merasakan dengan sangat akan
datang layar kapal. Sebuah alusi tentang perjalanan yang jauh. Imajinasi
selalu akan membebaskan diri.
Juli 2011
Goenawan Mohamad
Saturday, April 28, 2012
Di Assisi
Tuhan dengan suara yang aneh
melepaskan sayap malaikat
yang ingin terbang
dan tak kembali ke mural ini.
Berkah akan jadi tua,
juga batu-merah sepanjang hujan,
dan yang suci akan jadi hijau,
dan di langit El Gerco,
yang tak – fana
mungkin tak mengerti
kenapa cinta adalah sedih
yang tersisa
seperti remah pada meja
pagi hari
2005
Sebelum Bom
Sebelum bom itu meledak
Ia lihat pantai:
laut (yang belum selesai menghapal ombak)
melepaskan teja
yang hamper padam.
Hijau tak diacuhkan hujan, agaknya,
juga burung yang bertebar
di lading garam.
Dan ingin tidur.
Tapi di kamar ini Tia, seekor kucing.
mencakari kaca akuarium,
dan ikan-ikan tua
mengatupkan insang
ketika jam bundar itu
melepaskan tak-tik-toknya
ke cuaca, dan ia tak ingat benar
adakah bunga dalam vas itu
ia namai “krisantenum”
sebelum mati.
Sebelum bom itu meledak
2005
Di Jalan ke Arah Biara
Di jalan ke arah biara
bulan seperti suasa.
Langit lembab
tuhan tak tertanda
Tapi lereng itu rimbun
ke arah dusun.
Tebing menahan dingin, dan angin
seperti surat bahagia, dengan kata Latin
yang tak berarti apa-apa
2005
Aubade
Di halte pertama
seorang masinis menyanyi
seorang masinis menyanyi
karena tak terasa lagi dinihari. Pukul 5,
orang-orang tetap tak melihatnya
Tapi kota itu terbangun
oleh rel riuh, suara subuh,
sisa gerimis, tembilang ayam jantan
yang lama mengais.
seorang pelacur pun pulang
ke arah anak di kelas yang jauh,
“Telah kusiapkan sabak itu, Ibu,
telah kutuliskan namaku”
2005
Saturday, April 14, 2012
Belajar Dari Pantun
Pidato untuk Hari Jadi Sastrawan Negara dan Profesor Emeritus Muhammad Haji Salleh; Penang, 14 Maret 2012.
Tak perlu saya uraikan panjang: hari ini saya mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan sekaligus. Diundang untuk menyajikan sesuatu pada ulangtahun ke-70 seorang sastrawan terkemuka yang dihormati dalam masyarakat sastra Melayu di Malaysia, Singapura, dan Indonesia, berarti sebuah kepercayaan yang istimewa. Berada di tengah kegembiraan mendampingi Muhammad Haji Salleh di hari kelahiran beliau merupakan sebuah bonus, sebuah karunia tambahan, yang tak datang sembarang waktu.
Sebagai seorang yang satu generasi -- saya lebih tua beberapa belas bulan -- saya sadar, usia 70 tidak akan pernah datang buat kedua kalinya. Pada titik ini, ujung jalan di depan itu sudah tampak; tiap kali hari bertambah, kita pun kian mendekat ke sana.
Dan hari tak akan berulang. Saya selalu berpendapat bahwa kata 'ulang tahun' dalam bahasa Melayu-Indonesia untuk 'birthday' adalah sebuah kesalahan. Tanggal 26 Maret tidak berulang di kurun yang berbeda. Tiap tahun adalah tahun baru. Sebab itu sebuah ucapan jenaka dalam bahasa Inggris ada benarnya: 'Birthdays are good for you; the more you have them, the longer you live.'
Dengan mengutip itu, saya ingin mengucapkan selamat kepada Muhammad Haji Salleh, seraya berdoa, semoga tahun baru ini setidaknya akan memberi cabaran dan kesempatan bagi beliau untuk melahirkan karya-karya yang cemerlang. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
Karena itulah dalam kesempatan ini saya tak akan sekedar mengenang buah tangan Muhammad Haji Salleh, seperti galibnya orang memperingati seorang yang usianya di atas setengah abad. Saya akan mengenang karya beliau, tetapi juga ingin mengembangkannya -- sebagai tanda penghargaan saya kepada yang telah disumbangkannya kepada kesusastraan kita.
Demikianlah, dalam kesempatan ini saya memilih untuk berbicara tentang pantun -- bentuk ungkapan sastra yang dikenal akrab baik di Malaysia maupun di Indonesia, yang berkat telaah Muhammad Haji Salleh yang original dan perseptif, bertambah jelas nilainya bagi kita.
Tidak mengherankan bila kita bukan saja mendapatkan pantun dalam permainan anak-anak. Kita juga menemukannyab dalam karya penyair dan penulis lakon terkemuka. Pantun tak hanya mengutarakan pemikiran, tapi juga, seperti dikatakan Muhammad dalam eseinya, 'Estetika Pantun Melayu', 'perasaan, kesenian dan perkelilingannya,' dan semua itu 'dikutip' dalam 'jumlah yang besar, rinci lagi dalam'.
Dengan petunjuk yang disebut dari telaah itu, saya akan mengambil dua pasal kearifan di antara sekian pasal lain yang saya anggap dapat dipetik dari pantun.
Subscribe to:
Posts (Atom)






