Wednesday, September 29, 2010

Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun Itu

buat Agam Wispi


Tuhanku, komandanku, Engkau, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking

di luar kamar
malam hanya menghafal
lolong langit anjing –

pergilah dari kamp, dari kamp,
pergilah dari harap yang tersisa
seperti sekam,

berangkatlah dari kawat duri yang sabar,
dari Revolusi,
dari percobaan sebesar ini

Tuhanku, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking,
tinggalkan setasiun
ke salju dan danau, cantumkan cahaya Baikal
di malam yang sebentar,
dan sematkan sekilas bulan yang runcing
seperti leontin

Sampai pada lanskap ini tak ada lagi yang baka,
tak ada yang beku
sebeku titahMu, mungkin
sebeku namaMu.

Tuhanku, siapapun Engkau, pergilah
dari Nanking.


1996-1997

Tuesday, July 06, 2010

Untuk Frida Kahlo

Frida Kahlo menulis dalam catatan hariannya: "Hidup yang diam, pemberi dunia, apa yang paling penting ialah tiada harap. "Di sana disebutnya juga fajar, pagi, rekan-rekan merah, ruang besar biru, daun-daun di tangan, burung yang gaduh...

Apakah yang kita mengerti sebenarnya, tadi: kesederhanaan lagu tentang nasib, atau arus tak sadar pada tinta, darah dalam dalam dawat, deretan kata-kata murung? Apa penanda, apa petanda?

Frida tak pernah menjawab. Berhari-hari yang nampak adalah lelaki, tamu-tamu, yang berdatangan, melalui beranda Rumah Biru, menyapanya, duduk-duduk, minum teh, mencicipi kue, dan berceloteh dan melucu, sambil berdiskusi tentang tuhan yang mereka ingkari
dan kedatangan Trotsky.
Mereka berkata, "Tidak, Frida, kau tak apa-apa."
Tapi di alis itu...


di alismu langit berkabung
dengan jerit hitam
dua burung

di ragamu tiang patah
di kamar narsoke, ampul tertebar:
sisa sakit dan sejarah

tapi kijang yang tak menjerit di hutan
pada luka lembing penghabisan
adalah seorang perempuan

uluhati yang tercerabut
tapi terbang, menjemput Maut
adalah seorang perempuan

Kemudian akan datang lusa: dari Cayougan orang-orang akan pulang, dan akan datang pula orang lain. Ada yang telah berangkat mengurus revolusi atau kembali menenteng tas dan kertas-kertas - manifesto yang kehilangan bunyi. Tapi semua berkata, "Tidak, Frida, kau, kita,
juga Diego Riviera, telah berusaha untuk setia, tapi kita bukan apa-apa lagi. Dunia sudah tak seperti dulu."

Bukan apa-apa...

tapi di matamu kaulihat
piramid-piramid sakit
mencari air kaktus
pada pucat langit

lalu kaulukiskan airmatamu,
seperti mutiara dan
putih cuka
di tembikar kulitmu

Di atasnya para santo
dan wajah Diego: praba dan cahaya
yang membakar kekal
mimpi Meksiko

Di ruang Meksiko itu, dengan gaun putih Tehuana, Frida menghentikan kursi rodanya. Kamar berubah suhu, tapi hidup, seperti dulu, adalah kini yang berganti-ganti. Kekekalan - yang telah mengalami semua, dan akan menyaksikan semua - tak ada. Palet yang memamerkan luka, paras Judas, rangka dari kertas, buket kembang lavender yang tertahan di tangan: elemen waktu yang berakhir setiap hari, setiap kali.

Terkadang ia tergoda juga untuk lupa: dilukisnya korsase putih yang tetap bersih dari Noguchi ( di dada seorang perempuan, di Manhatan, yang jatuh dari gedung-gedung, dengan raut cemerlang, bunuh diri)

Apakah mati sebenarnya? Konon di tempat tidurnya - sebelum orang mengangkatnya ke api kremasi - ada seorang yang datang dan mencium parasnya, penghabisan kali, "Frida, kau adalah ketakjuban kepada harum brendi, senyum di percakapan dan ranum pisang dalam sajian
makan malam. Kau tergetar kepada apa yang sebentar."


Barangkali mati adalah transformasi, perjalanan ramarama yang sedih yang menghilang ke arah roh: keabadian yang tak tahu telah berubah lazuardi.

"Apa yang akan kulakukan tanpa yang absurd dan yang sementara?" Benar, begitulah ia pernah bertanya.


1993-1994


Saturday, May 22, 2010

Na Sonang Do Hita Na Dua

Derum daun-daun Ithaca
seperti lagu
di radio masa kecilnya
Na sonang do hita na dua

Tapi tak ada lagi
orang yang berdua
(itulah komposisi dalam nasibnya)

Yang ada hanya seseorang
yang membetulkan rambutnya
yang menipis, di pelipis
dan melihat ke akhir agenda

“Cinta kami adalah
dua nomor telepon yang hilang
dalam perpindahan
yang panjang “

Derum daun-daun Ithaca
brisik kersen tua
angin musim ketiga
mengontak ketakacuhannya

Tapi kamar telah menyetop
surat-surat
Juga Tuhan, kematian
dan rasa sakit di kejauhan

dengan siapa kita akhirnya
akan berada, akan berdua
seperti lagu
di radio masa kecilnya

1991

Saturday, March 27, 2010

Tahun pun Turun Membuka Sayapnya

Tahun pun turun membuka sayapnya
ke luas-jauh benua-benua
Laut membias: warna biru langit tua
Zaman menderas: manusia tetap setia


Kita di sini ngungun berdiri, membangun abad ini:
“Adakah sorga akan kemari?”
Lampu-lampu padam dan malam buta
Tapi manusia setia

1963

Lagu Hujan

Di luar hujan memahat kaca jendela
Di luar hujan membubuhkan warna senja
Di luar hujan membisikkan talking purba
bagi seorang Pemimpin, di hari kemarin
Disalibkan dunia


1963

Gerbong-Gerbong Senja

Rimba yang menghilang
dalam hembus senja yang panjang
dan kilometer-kilometer yang lenyap
(landasan perjalana tak kunjung genap)
memanggil-manggil malam yang sunyi


Dan demikianlah gerbong-gerbong senja
tiba dalam kota
berangkat dari kota
di batas Yogya, di Ibukota
dan di mana-mana
Sebab kasih adalah
rumah kami: sorga yang salih
yang tak ada berantau tersisih
yang tak ada berbumi yang sedih


1963

Jangan Lagi Engkau Berdiri

Jangan lagi engkau berdiri
di jendela-jendela sunyi dan kelam kali
Jangan lagi engkau tak mengerto
sajak apakah yang tinggal sendiri

Sajak yang ada mendengar bumi, bumi yang letih
Sajak yang ada mendengar hidup, hidup yang menagih
Sajak yang ada melihat abad, abad yang bersih
Bagaikan bulan yang timbul: memutih putih


1963

Thursday, March 25, 2010

MEZBAH

Mezbah ini sebuah kota
yang tak menyebutkan namanya
seperti kamar mayat
sementara

Tak ada tempat yang lapang
hanya seseorang bilang,
"kita berkabung, maka kita ada."

Malam pun menemui kurban
di hamparan. cahaya warna kusta
dan plaza jadi dingin, ketika ajal
memandang

ke paras pertama.ada angin dan api lampu.
Wajah itupun hanya putih, seakan puru,
dan mungkin maut
tak akan tahu mengapa ruang

dan dinding bergeming, mengapa
lorong ini tak melepas dosa
mengapa yang padam
tak ditinggalkan

2003

Wednesday, March 24, 2010

CIKINI

Syahdan, di kedai kembang itu dibelinya ros putih,
dan dituliskannya di secarik kartun: 'Aku
mencintaimu, kekal, seperti kucintai Audrey Hepburn'

Tapi (di sini ia berhenti sebentar, batuk,
menutupkan krah jaket, dan berkata pada diri
sendiri), kapan tahun tak akan memburuk?

Hidup mungkin sebuah bioskop, tapi tidak di jalan
ini. Cikini tetap terjepit juga di dekat pagi,
ketika gelap tak lagi penuh dari langit,

dan dari stasiun kuning, terang lampu tampak
tirus seperti lewat cadar, dan ambulans menggeletar,
mengirimkan isyarat.

Meski tak menyongsong apa-apa... Ia juga tak akan
berangkat. Ia dan Maut ingin berdua, di utara.


2004

ADEGAN

Kuingat bedeng beratap hitam
Kuingat bedeng beratap hitam di sebuah film Jerman:
Seorang perempuan tertinggal dalam gerbong

dengan lima patah kata dan lima luka bibir. Pada
close-up tampak ada darah seperti koma yang tertera

di alinea terakhir sebelum burung bangun sebelum
lambat laun jam menaburkan gentar

seperti tempias hujan dari pinus di halaman. Di
saat itu, mungkin kau tahu, doa fade out, jadi salju.



2004

Doa Persembunyian (di Sebuah Greja Rumania)

untuk Ivan dan Evelina

Tuhan yang meresap di ruang kayu
di greja dusun,
di lembah yang kosong itu,
kusisipkan namamu.

Jangan jadikan kerajaanmu.

Bebaskan aku dari sempit yang gelap
seperti surga
yang gemetar ini.

Beri aku
tuah, dari isim yang asing
seperti sepatah kata Ibrani
dari lidah tuan padri.

Beri aku
merah anggur yang tumpah,
sebelum mereka datang

sebelum mereka
melintasi makam peladang
dan menangkapmu
dari jemaah yang tidur
di Getsemani ini.

O Tuhan yang lenyap
dalam ruang kayu
yang hitam, sehitam tembakau
kusembunyikan namamu

kusisihkan laparku
takutku,
pedangku.

Di Jazirah Burung Hantu

Di Jazirah Burung Hantu selalu datang
ombak yang saling memperebutkan batas
yang kita
tak pernah tahu.

Merambat, melepas
telapak teluk, baris cadas,
dalam suara sibuk
pasang yang menorehkan bekas.

Tapi kali ini balsam hutan memilih warna jintan
di ceruk selatan pelabuhan.
Pesta tengah Mei
setelah unggas tak pergi lagi.

Sementara kau akan dengar juga teriak mercu
menabrak kabut, menyibak gelap,
menggapai
kapal-kapal lunglai,

layar yang tiarap
di sela-sela grimis keras, grimis kerap,
kepada siapa akanan
berhenti membiru, dalam sore yang jadi sembab.

Paginya teluk akan timpas
dan akan pulang, semua pulang,
pemburu-pemburu udangkarang
ke pantai yang hanya bekas.

Dan kau bertanya adakah lusa akan kaulihat kembali
perbani, bulan yang jalan seperti gadis peniti tali
dalam sebuah sirkus senja
antara pucuk karang dan pohon elma.

Tapi di Jazirah Burung Hantu, sepi
adalah suara takzim
gumam darun-daun hikori: suara mualim
pada peta navigasi.

Dan kau akan datang ke sana, mengikuti arahnya,
seakan ombak, seakan ombak,
biru, kelabu, selalu—
sebelum pergi.

1990

Tuesday, January 13, 2009

Berjaga padamukah Lampu-lampu Ini, Cintaku

Berjaga padamukah lampu-lampu ini, cintaku
yang memandang tak teduh lagi padamu
Gedung-gedung memutih memanjang
membisu menghilang dari sajakku

Tapi kita masih bisa mencinta, jangan menangis
Tapi kita masih bisa menunggu. Raja-raja akan lewat
dan zaman-zaman akan lewat
Sementara kita tegak menghancur 1000 kiamat


1963

Surat Cinta

Girl Braiding Her Hair (1885) - oil on canvas
Pierre-Auguste Renoir



Bukankah surat cinta ini ditulis

ditulis ke arah siapa saja

Seperti hujan yang jatuh rimis

menyentuh arah siapa saja


Bukankah surat cinta ini berkisah

berkisah melintas lembar bumi yang fana

Seperti misalnya gurun yang lelah

dilepas embun dan cahaya


1963

Kepada Kota


Apabila engkaulah cinta, lepaskanlah, kota

dari guhamu beribu gema

Hindarkan saat-saat yang senyap: udara mengertap

deru mobil dan huruf-huruf berlampu kerjap


Apabila engkaulah setia, tenangkanlah, kota

hatimu yang mendengar semesta dunia

Biarkan kini terjaga

Biarkan bumi semakin bergesa



1963

Kabut


Siapakah yang tegak di kabut ini

Atau Tuhan, atau kelam:

Bisik-bisik lembut yang sesekali

Mengusap wajahnya tertahan-tahan


Kepada siapakah kabut ini

Telah turun perlahan-lahan:

Kepada pak tua, atau kami

Kepada kerja atau sawah sepi ditinggalkan.


1963

Meditasi

dalam tiga waktu

Apa lagikah yang mesti diucapkan
dalam gaung waktu bersahutan?
Di empat penjuru
malaikat pun berlagu, lewat kabut
dan terasa
hari berbisik


Ada sekali peristiwa
di relung-relung sunyi Hira
terdengar seru:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu”


Maka terbacalah.
Tapi terbaca juga sepi ini kembali,
menggetar, pada senyum penghabisan
dan terjatuh dalam sajak,
sajak yang melambaikan tangan, terbuka
dan bicara dengan senja di atas cakrawala:
ada sesuatu yang terpandang bening
dalam diriku, antara dinding,
di mana terbubuh nama-Mu,
yang menjanjikan damai itu.


Bila langit pun kosong, dan berserakan bintang
mengisinya: tidakkah akan kami gelisahkan, Tuhan
segala ini? Tidakkah semacam duka
untuk memburu setiap kata, setiap dusta
tentang kejauhan-Mu, tentang rahasia?
Sebab Engkaulah arah singgah
yang penuh penjuru
seperti bumi, hati dan mungkin puisi
yang berkata lewat sepi, lewat usia
kepadaku

Maka siapkan waktu
dengan suara-Mu tegap
yang sediam lembut
detik-detik darah tersekap
sementara baringkan
kota dalam tidur jauh malam

Berikan pula kami antara diam ini
percakapan tiada sedih. Hanyalah malam
yang makin tebal bila larit. Hanyalah lengang
yang terentang di ruang kusut. Tapi kami yang diam
bisa bicara, Tuhan, dalam selaksa warna-warni
Dan tak ada perlunya sorga, dalam kemerdekaan seperti ini
yang terhuni
suara-suara bersendiri.
Tak ada perlunya sorga yang jauh
yang pasi dingin menyintuh:
tanah yang dijanjikan
dan telah ditinggalkan

Memusat matahari di bumi yang siang
Terpukau air kemarau, rumputan kering di padang-padang
Ini pun satu malam, dan kami mengerti
jauh dari indera yang telanjang. Di tepi-tepi
mencegah terik: Namun di manakah sedih, suara fana,
antara bisik-bisik jantung mengungkapkan kata-kata?

Ada sekali peristiwa
di relung-relung sunyi Hira
terdengar seru:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu”


Maka berikanlah sunyi itu kembali
Sebab kami mengerti: Engkau tak hendakkan
kami terima sedih ala mini,
alam yang sendiri,
yang terhampar jauh, sahabat tak terduga
Kabarkan: Apa lagikah yang terucapkan,
dalam gaung waktu bersahutan
yang begini damai, senyap,
Tuhan, begini menyekap,


1962

Expatriate

Akulah Adam dengan mulut yang sepi
Putra Surgawi
yang damai, terlalu damai
ketika bumi padaku melambai

Detik-detik bening
memutih tengah malam
ketika lembar-lembar asing
terlepas dari buku harian

Dan esoknya terbukalah gapura:
pagi tumbuh dalam kabut yang itu juga
dan aku pergi
dengan senyum usia yang sunyi

Langkah akan bergegas antara phonan lengang
Bersama baying-bayang unggas, bersama awan
Sementara arus hari
Menyusup-nyusup indra ini

(Adakah yang lebih tak pasti
selain tanah-kelahiran
yang ditinggalkan pergi
anak tersayang)

1962

Lagu Pekerja Malam

Lagu pekerja malam
Di sayup-sayup embun
Antara dinamo menderam
Pantun demi pantun

Lagu pekerja malam
Lagu padat damai
Lagu tak terucapkan
Jika dua pun usai

Tangan yang hitam, tangan lelaki
Lengan melogam berpercik api
Dan batu pun retak di lagu serak:
Majulah jalan, majulah setapak

Nada akan terulang-ulang
Dan lampu putih pasi:
Panjang, alangkah panjang
Dini hari, o, dini hari!

Lagu pekerja malam
Lagu tiang-tiang besi
Lagu tak teralahkan
Memintas sepi


1962

Thursday, February 15, 2007

Almanak

Amat bisu sejarah: kuketuk pintunya dan aku menunggu
Satu jam lagi menyerah dan satu jam lagi menyerah
bom jatuh di tengah malamku
- pucat bumi semesta
darah tetes di tengah sorga -
Tapi masih juga selalu
kubacakan padamu
sajak perlahan-lahan,
cerita-cerita tenang, pada
jam senyap senggang, sementara
pada lembut udara
lampu-lampu merah termangu,
dan di benteng-benteng kejauhan
di kaki langit yang ngilu
merangkak Asia
yang hampir mati
dari arah Nagasaki.
Malam pun berkepul
dari bumi yang tak hendak tidur:
Apakah harap masih utuh?
Atau rasa cemas yang ke seluruh?
Kita tak tahu
(Mungkin di sana ada
bisik-bisik Asoka
dan bising Zulkarnain
dari jurang Makedonia)
Mungkin hanya Tuhan melangkah
lewat arus resah
hidup tergerai
yang mengepakkan sayapnya
sekali lagi, sekali lagi

1962